Tinggalkan komentar

Masa lalu Mr. Tumnus : Polly Plummer

Mr. Tumnus. Mendengar nama ini, hal pertama yang pasti akan muncul di benak kalian adalah bahwa ia merupakan seorang pahlawan Narnia. Ia adalah sesosok faun yang memandu dan melindungi Lucy Pevensie pada kunjungan pertamanya ke Narnia. Ya, ia memanglah faun yang baik hati, tapi jika kalian tak lupa, Mr. Tumnus pernah berkata bahwa ia awalnya adalah mata-mata Jadis, namun, kehangatan hati Lucy telah merubah pendiriannya dan ia pun kembali menjadi seorang Narnia sejati.

Sekarang kita lupakan sejenak hal tersebut dan ikutlah bersamaku kembali ke masa bertahun-tahun yang lalu ketika Mr. Tumnus masih kecil dan mengintip sedikit kisah perjalanan hidupnya hingga ia menjadi mata-mata Jadis dan akhirnya disadarkan oleh Lucy.

Tumnus kecil adalah anak satu-satunya dari Eulalia dan Bing, pasangan faun yang sangat mendambakan Narnia yang merdeka. Bukan hanya mendambakan, mereka juga ikut memperjuangkannya. Ayah Tumnus, yaitu Bing adalah anggota kelompok pemberontak rahasia yang menamakan diri mereka Aslan’s Army, sedangkan ibunya adalah seorang guru yang terkadang bertugas mengurus urusan internal kelompok tersebut atau terkadang juga menjadi mata-mata di kelompok tersebut. Tugas para Aslan’s Army biasanya adalah mencegat kereta-kereta kuda pembawa upeti Jadis dan merampoknya, lalu memberikannya pada rakyat Narnia yang lebih membutuhkan. Selain itu, mereka juga terkadang membuat keributan dengan menyerang pos-pos penjagaan Jadis dan menangkap orang-orang kepercayaan Jadis lalu membawa para pengkhianat tersebut ke markas besar mereka di sebuah gua tua terlupakan yang tersembunyi dengan sangat baik di balik pepohonan dan sesemakan yang terletak di daerah Lantern Waste. Gua itu sangat besar dan dalam dengan jalan berliku juga bercabang dan ada juga cekungan-cekungan yang cukup lebar dan dalam yang dapat dijadikan penjara. Disanalah para pemberontak mengadakan rapat dan menyekap para prajurit dan orang kepercayaan Jadis sambil mengiterogasi mereka. Beruntung mereka bersekutu dengan Moonwood The Hare, seekor kelinci yang memiliki pendengaran super yang dapat mendengar semua suara hampir di seluruh Narnia walau dalam bisikan sekalipun, sehingga ia bisa selalu memberitahu para pemberontak mengenai semua rencana Jadis untuk menyergap mereka, jadi para Aslan’s Army bisa selalu luput dari semua rencana penyergapan dan jebakan Jadis.

Sebagai anak seorang pemberontak, Tumnus harus selalu hidup dalam ketakutan dan kecurigaan juga kewaspadaan tinggi, dan ini membuatnya jadi anak yang pemurung, pemalu dan penakut. Ia selalu dilarang oleh orang tuanya untuk menceritakan segala sesuatu tentang dirinya pada teman-temannya di sekolah, bahkan orang tuanya menyarankannya untuk tidak bergaul dengan anak-anak lain kecuali jika anak-anak tersebut merupakan anak-anak para pemberontak. Tumnus yang malang. Selalu kesepian dan gugup jika harus berinteraksi dengan orang lain.

Di usianya yang ke 18, Tumnus merasa bahwa sudah saatnya ia berubah. Ia ingin sekali bergaul dan memiliki teman. Ia bahkan sudah merencanakan untuk pergi meninggalkan rumahnya dan mulai kehidupan baru sendiri, tapi ayahnya berkata lain. Bing ingin anaknya membantu para pemberontak dan menjadi salah satu Aslan’s Army. Tumnus pun tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut.

Pada pengangkatannya tersebut, Tumnus bertugas untuk menjadi mata-mata di istana Jadis, ia terpilih karena menurut para anggota rapat, Tumnus memiliki wajah yang sangat meyakinkan, karena ia tidak memiliki wajah keras seperti anggota lainnya, jadi sang Penyihir Putih pasti tidak akan mencurigai wajah lugunya. Tumnus pun diperintahkan untuk menyamar menjadi salah satu pelayan di istana Jadis dan ia pun menerimanya dengan berat hati.

Tibalah pada hari yang ditentukan. Tumnus pun mendatangi istana Jadis dan menemui salah satu kurcaci hitam kepercayaan Jadis dan memberitahu maksud kedatangannya.

“Saya dengar Yang Mulia Jadis membutuhkan seorang pelayan.” Kata Tumnus takut-takut.

“Ya, benar.” Jawab si kurcaci hitam tanpa terlalu memperdulikan Tumnus. “Yang Mulia Ratu sedang membutuhkan seorang pengurus hewan.”

“Saya besedia bekerja apa saja.” Wajah Tumnus tampak agak berseri-seri karena lega langkah awal penyamarannya tidak langsung terbongkar.

“Baiklah. Kau tunggu disini. Aku akan memberitahu Yang Mulia.” Si kurcaci hitam pun pergi menemui Jadis.

Tumnus muda pun menunggu di luar dengan perasaan was-was bercampur kagum. Hal yang membuatnya kagum adalah arsitektur istana es Penyihir Putih, juga patung-patung yang berjejer di halaman tersebut. Patung itu tampak begitu hidup dan asli sehingga awalnya Tumnus mengira patung-patung itu hidup, namun setelah menyadari bahwa semua itu hanya patung, ia pun terbelalak takjub.

“Yang Mulia ingin menemuimu.” Panggil si kurcaci hitam ketika ia telah kembali ke halaman istana tempat Tumnus menunggu.

Tumnus pun berjalan mengikuti si kurcaci sambil melihat sekelilingnya dengan pandangan terpesona.

“Siapa pembuat patung-patung yang ada di halaman istana?” Akhirnya Tumnus membuka percakapan.

“Oh, itu Yang Mulia sendiri yang membuatnya.” Jawab si kurcaci dengan santai.

“Ternyata Yang Mulia Ratu adalah seorang seniman yang sangat hebat ya.” Puji Tumnus. “Patung-patung itu tampak sangat hidup.”

“Mereka memang makhluk hidup.” Komentar si kurcaci. “Setidaknya dulu.”

“Apa maksudmu?” Tanya Tumnus ngeri.

“Mereka adalah para pengkhianat yang diubah oleh sang Ratu dengan sihirnya yang luar biasa hebat.”

Bukan main terkejutnya Tumnus mendengar jawaban si kurcaci. Ia teringat cerita orang-orang tentang patung istana Jadis yang terbuat dari makhluk-makhluk hidup yang dianggap Jadis sebagai musuhnya. Dulu Tumnus menganggap kalau itu hanya isu yang disebarkan untuk membuat penduduk Narnia menjadi semakin takut dan membenci Jadis, tapi hari ini ia mengetahui kebenarannya. Tumnus merasakan mual yang luar biasa hebat di perutnya dan ia rasanya ingin sekali untuk berbalik pulang, tapi sudah terlambat. Ia sekarang sudah berada di hadapan Jadis.

Hal pertama yang Tumnus rasakan ketika melihat Jadis yang memandang padanya adalah bahwa lututnya terasa lemas dan badannya bergetar hebat. Jadis sendiri, setelah puas memandang sosok faun di hadapannya kemudian mengajukan beberapa pertanyaan yang dijawab Tumnus dengan suara ketakutan yang lebih terdengar seperti cicitan tikus. Setelah sesi wawancara selesai, Jadis pun mengatakan pada ajudan kepercayaannya, sang kurcaci hitam untuk membawa Tumnus ke kandang tempat kuda, juga rusa dan beruang kutub peliharaan si Penyihir Putih berada. Jadis menerima Tumnus bekerja di istananya.

Tumnus muda pun mulai bekerja hari itu juga. Ia ditugaskan untuk merawat peliharaan Jadis seperti memandikan, menyisiri bulu mereka dan memberi makan. Dia bekerja dari jam 9 pagi sampai pukul 5 sore dan setelah selesai bekerja, ia akan kembali ke rumahnya, dimana orang tuanya sudah siap dengan pertanyaan-pertanyaan mereka tentang informasi apa yang Tumnus dapatkan hari itu selama berada di istana Jadis, dan Tumnus hanya akan menjawab, “Tidak ada, Tidak ada yang mencurigakan disana.”

Memang itulah yang dirasakan Tumnus setelah beberapa hari bekerja di istana Penyihir Putih. Menurutnya Jadis itu baik walaupun terlihat dingin dan kejam. Ia berpendapat seperti itu karena selama ini perlakuan sang Penyihir terhadapnya cukup manusiawi. Ia digaji dengan pantas dan diberi makan dengan layak. Tumnus memang tidak melupakan tentang patung-patung yang ada di halaman istana tersebut, tapi ia mengalihkan pikiran tersebut dengan berpikir bahwa sosok-sosok yang menjadi patung tersebut pasti sudah melakukan kesalahan yang sangat besar dan fatal sehingga dihukum seperti itu.

Tak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat dan Tumnus sudah merasa sangat betah bekerja dengan sang Ratu, sementara kedua orang tuanya terutama ayahnya semakin tidak sabar pada Tumnus karena ia tidak pernah memberi kabar yang berguna sama sekali bagi Aslan’s Army.

“Bagaimana mungkin kau tidak mendapat informasi apa pun selama bekerja disana?” Tanya ayah Tumnus dengan gusar.

“Aku tidak tahu!” Tumnus terlihat tertekan dan terpojokkan. “Semua yang terjadi di istana itu memang biasa-biasa saja.”

“Tidak mungkin penyihir jahat itu tidak memiliki rencana busuk atau setidaknya rahasia apa pun yang dapat kita gunakan untuk mengalahkannya.” Ayah Tumnus semakin meninggikan suaranya.

“Memang tidak ada!” Tumnus juga meninggikan suaranya. “Dan menurutku, sang Ratu tidak sejahat yang kalian kira!”

“Baik katamu?” Ayah Tumnus tampak kaget mendengar pendapat Tumnus tentang Penyihir Putih. “Dia itu jahat! Sangat jahat! Apa dia sudah mencuci otakmu sehingga kau membelanya?”

“Tidak!” Jawab Tumnus. “Aku mengatakan hal itu dari cara ia memperlakukan aku dan semua pekerja dan prajuritnya selama ini.”

“Itukan hanya tampak dari luarnya saja.” Ibunya Tumnus mencoba menenangkan suasana dengan berbicara lembut.

“Kalian tidak mengerti!” Tumnus terlihat semakin frustasi. “Kalian tidak akan pernah mengerti karena hati kalian terbutakan oleh kebencian. Aku sudah bekerja disana selama lebih dari empat bulan, dan aku tidak pernah melihat atau merasakan perlakuan jahatnya!”

“Jika dia memang baik,” kata ayah Tumnus dengan nada dingin, “dia tidak akan memerintah Narnia dengan tangan besi, ia tidak akan menahan Bapak Natal dan menyelimuti Narnia dengan musim dingin abadi. Dia bukan ratu Narnia sejati. Aslan lah yang memiliki negeri ini. Dialah raja sejati dan suatu hari nanti akan datang dua putra Adam dan dua putri Hawa untuk membebaskan Narnia.”

“Oh, ya ampun!” Tumnus mencemooh. “Dongeng itu lagi. Aku sudah muak mendengarnya dan aku juga sudah muak dengan kahidupan kita yang selalu diliputi kecurigaan dan ketakutan! Yang Mulia Jadis bisa memberiku kebebasan, dan aku sangat menghargai kebebasan tersebut!”

Tumnus pun pergi dari rumahnya. Saat ini ia benar-benar kecawa pada orang tuanya yang membenci Jadis sehingga akal sehat pun pergi darinya dan membuat hati dan pikirannya menjadi tidak jernih. Ia pun berjalan menuju istana Jadis berniat membongkar semua rahasia Aslan’s Army. Dalam hati ia meyakini Jadis nantinya hanya akan memenjarakan mereka saja, dan ini semakin membulatkan tekadnya. Ia pun menyusun rencana selama di perjalanan tentang bagaimana ia akan memberitahu Jadis informasi mengenai Aslan’s Army tanpa didengar oleh Moonwood.

Tumnus pun tiba di istana Jadis dan berbicara pada penjaga pintu gerbang istana yang kemudian meneruskannya pada si kurcaci hitam kepercayaan Jadis. Setelah Tumnus memberitahu maksud kedatangannya, si kurcaci pun mengantar Tumnus menemui Jadis.

Ketika ia berada di ruangan tempat Jadis berada, Mr. Tumnus tidak mengatakan sepatah kata pun. Setelah memberi hormat, ia mengeluarkan sebuah gulungan perkamen yang sudah ia siapkan sebelum tiba di istana lalu menyerahkannya pada Jadis. Beginilah isi perkamen tersebut.

Yang Mulia Ratu Jadis. Dengan ini saya ingin memberitahukan sebuah informasi mengenai Aslan’s Army. Pada bulan purnama keempat, yang akan terjadi besok lusa, para Aslan’s Army akan mengadakan sebuah rapat besar untuk menjatuhkan anda di gua yang terletak di dekat air terjun Lantern Waste. Saya memberitahukan hal ini melalui tulisan karena saya takut Moonwood akan mendengar pembicaraan kita dan memberitahu Aslan’s Army mengenai semuanya. Seperti Yang Mulia ketahui, Moonwood memiliki pendengaran yang sangat tajam, yang dapat mendengar suara-suara hampir di seluruh Narnia, dan usaha untuk menangkapnya hanya akan menjadi usaha yang sia-sia saja. Saya mohon tanggapan anda melalui sepucuk perkamen juga agar lebih aman, dan satu hal lagi, saya mohon agar yang mulia memberi belas kasih bagi kedua orang tua saya dengan mengampuni mereka sebagai upah informasi saya, karena sebenarnya mereka tidak tahu kebaikan hati Yang Mulia selama ini.

Hormat saya,

Tumnus.

Setelah membaca ini, Jadis menatap Tumnus dengan ekspresi yang tidak dapat dibaca, lalu meminta kurcaci kepercayaannya mengambilkan makanan dan minuman untuk Tumnus juga perkamen dan alat tulis untuknya. Setelah si kurcaci kembali dengan secarik perkamen dan alat tulis bersama seorang pelayan yang membawa makanan, Jadis pun mulai menuliskan jawabannya.

Terimakasih atas informasimu yang berharga, Mr. Tumnus yang pintar. Beruntung kau memihak padaku, dan untuk itu mulai sekarang kau akan kuangkat menjadi salah satu mata-mata kepercayaanku. Mengenai para pemberontak, kuharap kau mau membawaku dan pasukanku ke tempat yang kau maksudkan tadi, selebihnya biar aku yang mengurusnya. Aku akan menunjukkan belas kasihku pada mereka walaupun mereka telah berkhianat padaku. Jika kau setuju, anggukkan kepalamu.

Jadis pun kemudian memberikan perkamen tersebut pada ajudannya yang kemudian diteruskan pada Tumnus. Tumnus pun membaca perkamen itu dan senyum kelegaan pun menghiasi wajahnya. Ia pun mengangguk mantap.

Seperti yang telah disepakati, Jadis dan sekitar 1000 tentaranya pergi menuju Lantern Waste untuk menyergap para pemberontak. Sebelumnya Jadis sudah memberi instruksi pada Jenderal pemimpin para prajuritnya dengan menggunakan sebuah perkamen yang berisi strategi perang yang akan mereka gunakan.

Setibanya disana, Tumnus menunjuk gua tempat Aslan’s Army mengadakan rapat yang juga merupakan markas besar mereka. Jadis pun tersenyum dengan sinis lalu berbalik pada para prajuritnya. “Bunuh semua pemberontak itu! Aku tidak menginginkan tawanan perang!”

Tumnus terkejut dengan perkataan Jadis lalu memberanikan diri untuk berbicara. “Tapi, anda sudah berjanji untuk menunjukkan belas kasih anda pada mereka.”

“Ya, aku akan memenuhinya.” Jawab Jadis sambil lalu. “Mereka semua akan mati dengan cepat tanpa merasakan siksaan dan rasa sakit. Dan untukmu, sebaiknya kau tidak berkhianat jika tidak ingin mati konyol.”

Maka dimulailah pertempuran berdarah Aslan’s Army yang hanya berjumlah 200 orang dengan prajurit Jadis yang berjumlah 1000 orang. Para pemberontak sangat terkejut dengan penyerbuan ini, dan mereka tidak dapat melakukan apapun selain melawan dengan senjata seadanya. Tumnus hanya dapat melihat pertempuran tersebut dengan ngeri dan rasa penyesalan yang amat sangat dalam di samping Jadis yang tersenyum puas. Tumnus dengan terpaksa melihat bagaimana para pemberontak digiring keluar gua dan dibantai habis. Pertempuran itu berlangsung singkat, hanya sekitar satu jam, dan semua anggota Aslan’s Army tewas dibantai. Mr. Tumnus yang malang, hanya bisa meneteskan air mata penyesalan ketika melihat ayahnya tercabik kampak sesosok minotaur yang konon kemudian diangkat Jadis menjadi Jenderal perangnya. Tumnus akan selalu menyesali ini seumur hidupnya, hari dimana ayahnya, para pejuang Narnia dan keadilan, dihabisi oleh kejahatan dan keserakahan. Tumnus yang bodoh dan malang.

Setelah semuanya berakhir dan Tumnus kembali ke rumahnya, ia tak dapat menemukan ibunya. Ia hanya menemukan sepucuk surat dari Jadis yang mengatakan bahwa ibunya ditahan di penjara bawah tanah istana es Jadis dan mengancam Tumnus, Jika ia berkhianat, maka ia dan ibunya akan dibunuh.

Begitulah, Tumnus pun akhirnya menjadi mata-mata Jadis, sementara ibunya meninggal 2 tahun setelah menjadi tawanan Jadis. Ia meninggal karena penyakit dan kelaparan. Tumnus yang tak berdaya dan sedang dirundung kesedihan yang mendalam, terpaksa mengabdikan hidupnya menjadi mata-mata Jadis. Ia tampak seperti robot tanpa jiwa karena jiwanya telah mati bersama kematian kedua orang tuanya, hingga suatu hari setelah lebih kurang sepuluh tahun berlalu dari insiden pembantaian itu, ia bertemu dengan Lucy Pevensie yang akhirnya mampu mencairkan hati Mr. Tumnus dengan kehangatan dan kepolosan hatinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: