1 Komentar

Hadiah Susan

Cerita ini berlatar belakang bertahun-tahun setelah Susan kehilangan keluarga dan teman-temannya dalam kecelakaan kereta api di London. Saat ini Susan sudah sangat tua dan memiliki empat orang anak (dua laki-laki dan dua perempuan) dan juga delapan orang cucu.

Seperti yang kalian tahu, Susan dulunya mengkhianati Narnia dengan berhenti mempercayainya. Aku tahu banyak dari kalian yang kemudian jadi membenci Susan, tapi menurutku pengkhianatan Susan tidaklah terlalu buruk karena akhirnya pengkhianatan yang dilakukannya tersebut membuatnya tetap hidup dan kisah Narnia juga tetap hidup dan tertanam selamanya di hati dan pikiran mereka yang lugu dan polos.

Sepeninggal keluarganya, Susan mewarisi semua harta keluarganya. Susan sangat menyesal dengan pengkhianatannya terhadap Narnia dan juga saudara-saudaranya. Ia tak henti-hentinya menangis dan meratapi kepergian keluarga dan teman-temannya, hingga suatu hari ia mendapatkan sebuah keajaiban. Ia merasa, atau mungkin benar-benar melihat sosok Aslan beserta keluarga dan juga teman-temannya menatapnya dari balik cermin dengan ekspresi sedih.

“Mom? Dad?” Katanya parau. “Apa itu benar-benar kalian?” Tak ada jawaban, hanya anggukan singkat dan bayangan mereka pun memudar. Sejak peristiwa itu, Susan memutuskan untuk bangkit dan menjalani hidupnya. Ia kemudian bekerja sebagai seorang guru di sekolah dasar tempat dimana sesekali ia menceritakan Narnia di sela-sela waktu mengajarnya. Semua anak akan selalu terlihat antusias mendengarkan ceritanya, dan begitulah awal mula cerita Narnia menyebar.

Ketika ia berusia 27 tahun, Susan menikah dengan seorang pria tampan dan baik hati yang selain jatuh cinta pada Susan, juga jatuh cinta pada cerita-cerita Susan tentang Narnia, bahkan mempercayai cerita Susan dengan sepenuh hati tanpa sedikitpun keraguan. Setelah bertahun-tahun menikah, mereka memiliki empat orang anak yang mereka beri nama Peter, Helen, Edmund dan Lucy untuk menghormati saudara dan saudari juga ibunya Susan. Kepada keempat anaknya ini, Susan selalu menceritakan tentang Narnia dan yang paling mereka sukai dan membuat mereka penasaran adalah ketika Susan menceritakan tentang Aslan.

“Apa kami akan dapat bertemu dengannya?” Itulah pertanyaan yang selalu mereka tanyakan padanya dan Susan akan menjawab, “ Jika kalian mempercayainya dengan tulus dan jika waktunya sudah tiba, kalian pasti akan bertemu dengannya.” Lalu anak-anak Susan akan tersenyum riang sambil membayangkan pertemuan mereka dengan Aslan nantinya.

Sekarang, berpuluh-puluh tahun telah berlalu. Susan saat ini sudah berusia 70 tahun dan terbaring lemah di tempat tidurnya dengan ditemani oleh suami, anak-anak dan menantu juga cucu-cucunya. Ia memang sedang menunggu malaikat maut menjemputnya, tapi tak ada sedikitpun rasa takut dan penyesalan atau kesedihan di wajahnya. Ia tersenyum bahagia dan keluarganya menatapnya dengan penuh kasih.

“Sampaikan salamku pada Aslan ya, Nek!” Pinta salah satu cucunya diantara isak tangisnya. Susan memang seorang nenek berhati lembut dan penyayang, membuat semua cucunya sangat menyayangi dan menghormatinya.

“Pasti sayang.” Kata Susan lembut, lalu menutup matanya dan ia pun pergi untuk selama-lamanya.

**********

“Selamat datang kembali, Sue.” Sambut Peter, Edmund, Lucy dan kedua orang tuanya, juga Aslan dan para penghuni Narnia lainnya termasuk Caspian. Mrs. Beaver memegang sebuah bantalan berukuran sedang yang di atasnya terletak mahkota yang dulu di pakai oleh Susan ketika ia menjadi ratu Susan, penguasa Selatan Narnia.

“Apakah ini benar-benar nyata?” Tanya Susan heran bercampur bahagia karena sekarang ia berada di Narnia lagi.

“Sangat nyata sayangku.” Kata Aslan. “Kau sudah meninggal di Inggris dan sekarang aku memanggilmu untuk kembali ke Narnia lagi dan menjadi ratu Narnia.

Susan kelihatan sangat kaget, bahkan sesaat dia mengira Aslan sedang mempermainkan dirinya atau ini semua hanyalah mimpi. “Tapi aku sudah berkhianat pada kalian semua, pada Narnia dan terutama padamu, Aslan.” Susan merasa sangat tidak pantas. “Lagipula aku sudah terlalu tua dan renta.”

“Tidak di dunia ini, anakku.” Kata Aslan. “Lihatlah dirimu!”

Susan melihat dirinya sendiri sambil meraba wajahnya. Ia sudah kembali menjadi Susan yang dulu, Susan yang masih muda, yang hanya lebih muda dua tahun dari Peter dan juga lebih tua dua tahun dari Edmund.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Susan bingung.

“Kau sudah menunjukkan kesetiaanmu pada Narnia dan sudah menebus kesalahanmu.” Jawab Aslan. “Dan untuk itu kau bisa berkumpul lagi dengan keluargamu. Itulah hadiah untukmu Putri Hawa. Lagipula seperti janjiku dulu, sekali Raja atau Ratu Narnia, akan selalu jadi raja atau ratu.”

Susan sangat terharu dan senang dengan perkataan Aslan sehingga ia langsung menghambur dan memeluk leher Aslan.

“Sudah saatnya mengenakan mahkotamu lagi, Ratu Susan si hati lembut.” Aslan menunjuk pada mahkota Susan yang dibawa Mrs. Beaver dengan anggukan kepalanya.

Peter mengambil mahkota tersebut dari Mrs. Beaver dan memakaikannya pada Susan yang berlutut dengan khidmat di hadapan Aslan. Setelah Peter memakaikan mahkotanya dan Aslan memberkatinya dengan menumpangkan salah satu cakar depannya ke bahu Susan, Susan pun berdiri dan menghadap keluarganya.

“Aku rindu sekali padamu, Sue!” Seru Lucy sambil memeluk Susan dengan sangat erat lalu diikuti Edmund, Peter dan kedua orang tua mereka dengan diiringi tepukan tangan dan sorak-sorai seluruh penduduk Narnia. Susan telah kembali.

One comment on “Hadiah Susan

  1. Aku pengen kyak Susan….. T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: